Feed on
Posts
comments

Kawan…….
Ajarkan aku bagaimana memanah bulan
Berikan aku cara mengepalkan jurus meninju matahari
Serta semua kekuatan untuk menjaring ratusan manusia

Sebab setelah kudapat semua
Ku kan menjadi bongkah kilat
Yang mengirim seonggok bangkai pada penguasa
Hingga berkalang diatas bunga

-Bandung, 3 Februari 2008 by Nada Saqy Revoltia-

 

————————————————————————

saqy, untuk bisa memanah si rembulan

kamu tidak boleh terpesona akan

keindahan dan keteduhan jiwanya yang bebas,
sebab mukanya penuh kawah kemunafikan
dan sikapnya dingin tak berbelas kasih.

sedangkan untuk meninju matahri
kamu tidak boleh silau akan sinar gemerlapnya
juga tanganmu harus tahan
akan panas nafsu dan hasratnya

dan kepada manusia yang tenggelam dalam
samudera kebodohan,
kamu harus sabar untuk menjelaskan
bahwa jaringmu bukan untuk menenggelamkan mereka
tapi untuk mengangkat mereka menghirup udara kemerdekaan.

dan kepada rembulan si liberalis
serta matahari si kapitalis
sudah terlalu lama mereka
bertahta diangkasa yang angkuh.
saatnya menjatuhkan mereka
mencium getirnya humus di perut bumi,
kerasnya cadas di puncak-puncak gunung,
dingin dan sepinya di kedalaman palung-palung.

supaya mereka tahu
bahwa kita bosan berada dibawah bayang-bayangnya.

hanya kepada kilat, guntur, dan badai.
serta pada tetes hujan, serpih-serpih salju,
dan gelembung embun yang kusadap dari kabut.
kualirkan tiap tiap keresahan jiwa mudaku
atas kesenjangan antara langit dan bumi.

Demi masa…

Tulisan ini kumulai dengan hati yang berdebar pelan sambil
menatap cermin, tak ada gurat keriput di

sana

masih kencang walaupun ada beberapa kawah hasil letusan jerawat sisa-sisa
metabolisme yang tidak terkelola dengan baik didorong oleh enzim dan naluri untuk
mempertahankan keturunan yang tidak tersalurkan.

Tapi…buph…jantungku melambat karena saya dapati sepucuk

surat

di sela-sela
mahkotaku yang legam, tebal, dan ikal. Putih keperakan sangat kontras dengan
helai-helai yang lain. Akhirnya teguran itu datang juga pikirku, padahal usiaku
baru 23 tahun lebih beberapa bulan. Apa si kurir kali ini salah kirim paling
tidak seharusnya aku baru mendapatkannya 10-20 tahun lagi. Ah…, tidak mungkin
Dia mengutus kurir yang alpha. Ya, pesan ini mutlak untukku.

 Akupun mencabut jarum perak di ubun-ubunku itu dan
membawanya kejendela memperhatikan kilaunya diterpa sinar siang yang terik.
Kuhela nafas panjang mengundang si cerdik akal, si hati yang bijak, dan si jiwa
dengan nafas ruh-Nya. Kami berembuk mencoba membaca sasmita yang tersemat dari
tiap berkas cahaya kemilau dari jarum perak tersebut.

 Berkas cahaya itu silang menyilang dan saling memilin
membentuk garis-garis aksara dan akhirnya menjadi kalimat.

Apa yang telah kamu
lakukan selama ini buat Tuhanmu, agamamu, bangsamu, keluargamu, karib handai taulanmu, dan dirimu sendiri?

 Jantungku berhenti berdegup sebab tak bisa menjawap apa-apa.
Si akal yang sok tahu lari tunggang langgang bersembunyi dalam lipatan-lipatan
labirin perpustakaannya tanpa menoleh lagi kepadaku, dan si hati hanya bisa menangis
karena tidak mampu menampung pertanyaan-pertanyaan itu, kehebatannya memendam
rasa, rahasia, bahkan gejolak samudera emosi, seketika tak berguna. Untung si jiwa
cepat tanggap dan meniupkan nafasnya di dadaku sehingga jantungku kembali
berdegup walau masih lambat.

 Terbayang malam-malam yang kulewatkan begitu saja tanpa
menjenguk-Mu walau sesujud, tanpa belajar keras demi memenuhi kewajiban sebagai
penerus bangsa yang semakin terpuruk saja. Terngiang suara Ibunda tersayang
“Nak, belajar yang rajin dan jangan lupa sholat, kehormatan dan kebanggaan kami
ada di tanganmu!” dan saya cuma bisa menjawab singakat “Iye…!” sambil
menggenggam uang yang berhasil saya jarah dari tetes-tetes keringatnya. Juga
suara adik-adik dikampus “Kak, bagaimana kalo begini, bagaimana kalo begitu?”
dan tanpa rasa tanggung jawab, tanpa kearifan dan entah dengan kharisma apa aku
menjawab “Masamumi itu De’, kita sudah tuami kodong!”. Ah..ternyata aku sudah
akui kalau aku sudah tua padahal
pada detik-detik sebelumnya aku menolak
mendapat ultimatun itu.

 Tulang belulangku lemas tanpa daya membiarkan tubuhku
lunglai terduduk sambil bersandar di didinding membelakangi matahari. Jarum
perak itu telah hilang entah ke mana, terlepas dari jepitan jariku meleyang
tertiup angin keluar jendela. Aku masih tertunduk menatap bayang-bayangku hasil
proyeksi berkas sinar matahari yang menerobos lewat jendela di belakangku.

 Bayangan yang sama yang sejak 23 tahun lalu menemaniku,
setia mendampingi di setiap langkahku kecuali kalau aku menginginkan
kesendirian di dalam gelap. Mungkin dia sudah bosan menyaksikan segala
kemunafikan dan kemalasanku. Jengah mendengar semua dusta dan keluh kesahku.

 “Maaf kalau aku tidak membuatmu begitu bangga, sekarang kamu
boleh pergi!” aku mengacuhkannya sambil menutup jendela dan membenamkan diriku
dalam pelukan kekasih yang selalu mengertiku, si kelam kegelapan.

Demi Masa….
Aku benar-benar telah rugi…..

 

 

 

pa kabar?

Bunga, apa kabarmu?
Sudah lama aku tak menyapamu
Sejak di pagi hari di awal musim hujan
Ditemani dinginnya angin barat.

Sungguh aku tak pernah mengacuhkanmu!
Setiap ku melintas… meski sekilas,
Tiada rona di kelopakmu yang ranum
Kecuali kuteduhkan mataku sejenak dalam sejuknya
Tiada harum nafasmu yang semerbak
Kecuali ku hirup dan ku tahan sekuat-kuat hayatku

Selama ini aku hanyut dalam diam
Menantikan pagi hari yang haru nan bahagia
Kala ku buka kelopak mata dan mendapati
Seikat kembang merah dalam dekapan.

Mungkin aku takkan pernah memetikmu
Menjagamu dalam jamban kristal
Dan menghiasi leher jenjang mu dengan pita

Karena aku bukan si Bujang, perayu.
Yang memetik kembang
Hanya untuk dipersembahkan ke orang lain
Karena aku bukan kumbang, jodohmu.
Yang hanya mengunjungimu di musim semi
Dan alpa di pagi dingin dan pekat seperti waktu itu.

Karena aku….
Tidak cukup nyali dan kekuatan
Untuk memilikimu…

Ya Rab….

Pemilik yang tak termiliki

Demi Kasih Sayang dan Cinta-Mu

Saksikanlah ketidakberdayaanku.

 

Aku telah berusaha memanifestasikan Kecantikan dan
Kenggunan-Mu

Dalam tiap karya lewat kedua tanganku yang juga hasil
kemurahan-Mu.

Dengan harapan menyampaikan Eksistensi-Mu di diriku dan di
tiap ciptaan-Mu

Menolong sesama dan membangun peradaban

Membuat pijakan agar tak malu menghadap-Mu kelak

 

Namun aku sangat jauh dari keadilan-Mu

Demi membangun yang kuat telah terinjak yang lemah

Demi menghias si buruk rupa telah tercoreng wajah ayu nan
jelita

Demi menghibur hati yang gundah telah terkirim nestapa pada
hati yang ceria

Dengan dalih pengorbanan telah ku bunuh kehidupan

 

Bagaimana bisa kujejaki jalan ini

Demi hidupku ada yang mati

Demi senangku ada yang bersedih

Di sekitarku ratusan orang tealah terampas haknya

Dan bila aku berhenti dan berbalik dari jalan ini

Maka lebih banyak lagi yang menderita.

 

Meski dengan sesujud saja

Aku tahu Kau

kan

mengampuniku

Meski dengan sekeping zakat saja

Dengan mudah Kau

kan

membebaskanku

Namun malam-malamku tetap terampas

Oleh mimpi buruk bersama mereka yang tertindas

Kau pasti tahu kalo aku cemburu.

Kau pun pasti tahu kalo ini menyakitiku

Dan bukankah kau juga tahu kalo aku dingin dan kaku?

 

 “ Bagaimana Prince
Glass? Kaca memang dingin dan keras.

Tapi bukankah dia terbangun oleh susunan kristal yang
bergurat dan getas.

Keras namun rapuh. Bukankah gurat itu yang membuatnya mampu
mengurai cahaya menjadi spektrum-spektrum nan indah.

Mempesona.

Aku Cuma menghadirkan sebuah getaran berharap
resoanansimu. Kalo ada yang retak, salah sendiri terlalu kaku!”

 

Harusnya kamu tahu bahwa semuanya sudah kukatakan

Lewat spektrum cahaya dari  mataku ketika menatapmu

Harusnya kamu tahu sebab telah kusampaikan

Lewat suaraku yang serak akibat getaran resonansi hatiku

yang berdebar ketika di dekatmu

 

Aku tidak punya kemampuan untuk terus mendekapmu

Dan tampaknya kamupun enggan untuk bersandar sejenak

 

Sudahlah…

Lampu-lampu yang temaram memang indah

Namun harusnya kita mengerti

Kalo cahaya dan kaca tidak benar-benar bersatu

Cahaya akan terburai kehilangan intensitasnya akibat kaca
yang kaku

Dan kaca akan panas memuai terbakar ego dari cahaya yang
ingin menjelajah semesta

 

Goodbye Princes Light,

Mungkin di ujung semesta

kamu tidak perlu mengingatku lagi

Sempurna

Telah kugembalakan azamku
di setiap padang fikir, niat, dan perbuatan
Telah kubenamkan iri dan dengkiku
dalam taburan ribuan kembang wangi dari taman keridhaan
Telah kupadamkan gejolak api amarah
dengan tetes air di telaga sejuk pemaafan
Telah kuganyang serakah dan sombongku
dengan belati tajam yang diasah dengan intan rela berkorban dan rendah hati
Dan telah kupuaskan dahaga nafsuku
dengan anggur kesabaran di cangkir tawadhu

Lalu mengapa singgasana keikhlasanku
yang kubangun dengan iman berhiaskan taburan taqwa
masih bergetar oleh jerit tangis kemunafikan
yang telah lama kupenjarakan jauh…. jauh….
dari semesta ruhku

Ya Khaliq…
Saksikanlah hambamu yang lemah ini
Berkemauan tapi tidak bertekad
Berjuang tapi tanpa semangat
Bertobat tapi tidak istiqamah

Dengan remah-remah azam di niatku
Dengan sekecap dzikir di lidahku
Dengan sekerat akhlak di laku perbuatanku
Dengan seperca tawakkal di penghujung harapku
Dengan segala kekurangan dan kecacatan diri
Cukupkanlah bagiku akan Dirimu

Sempurna

—–catatan akhir ramadhan—–

Destiny of 2002

Demi tanah
kelahiranku di ranah juang jalur gaza

Demi kelahiranku
yang disambut pekik tangis dan api yang membara

Demi hidupku yang
di asuh mulai dari ujung lidah hingga ujung telapak tangan kiri

Demi jantung dan
nadiku yang mengalirkan tetes darah yang memerah-hitam

Demi tengkorak
dan belulangku yang menampung jiwaku yang memeberontak

Demi Dzat yang
kepada-Nya ruhku membuncah menanggung rindu

 

Kan ku hela
setiap nafas udara kemerdekaan jernihkan fikirku

Kan ku kecap
setiap tetes asam-manis jujur lisanku

Kan ku tancapkan
mizan di setiap jejak langkah lakuku

Kan ku tanami
jiwaku dengan akal budi hingga retas mulia karya

Kan kusingkap takdirku demi kejayaan di akhir zaman

Tuhan,
Lapangkanlah dadaku untuk menerima
segenap cinta yang pernah ada
terimakasih atas naugerah rindu
yang menyuluh harap di dalam kalbu

ketika ku buka jendela di pagi hari
biarkanlah cinta semerbak harum mewangi
mengiring munajat di setiap sujudku

Ya Allah,
Jangan biarkan cinta itu berkurang
meski angin membanting,
meski air mengikis,
meski api membakar,
dan meskipun tanah mengubur….

…………………

(selamat pagi cinta,-)

Lama sudah Adinda
Kau larut dalam lelap
Di Bingkai masa remaja
Menari di piajakan
Pelangi dunia

Tak lama lagi Adinda
Pintu hari yang baru kan membuka
Membawamu ke belantara nyata
Yang tak lagi berwarna
Putih dan hitam

Suatu hari nanti adinda
Di tanah ini kau berpijak
Seiring kita menapak
Bersama seribu anak bangsa

Dalam pigura harimu adinda
Kan kau guratkan tangis dan tawa
Kan kau selami samudera ilmu
Kan kau retas mulia karya

Di tanah merah
Di tanah tamalanrea
Di kampus tercinta
Kampus Merah HItam

Calon Zeniormu.
………………………………………..
Last Will of The Big Great Double Nine.

Setiap jiwa adalah kaca
Tempat kita berecermin
Seberapa baikkah aku…..?
Seberapa burukkah aku…..?

Dari judul di atas, Kisah 2002 Malam, terlihat bahwa ada bentuk adaptasi (kalo tidak mau dibilang plagiat) dari judul sebuah maha karya yaitu Kisah 1001 Malam. Berangkat dari rasa kebanggaan sebagai angkatan 2002 Teknik Sipil FT-UH yang dalam kehidupan sehari-harinya telah mengalami 2002 (baca : ribuan) macam kisah, epic, dan legenda, maka judul tersebut sangat cocok dan menurut kami cukup mewakili keseharian kami.
Namun ide tersebut juga bisa dibilang tidak original sebab sebelumnya sebuah produsen musik ternama pernah mengeluarkan album kompilasi yang bertajuk sama, Kisah 2002 Malam. Di mana pada album tersebut Peterpan pertama kali muncul lewat single Mimpi Yang Sempurna. Jadi kemungkinan dalam tataran ide untuk membajak Kisah 1001 Malam-pun adalah sebuah bajakan juga.
Dalam kondisi terburuk, tuduhan apapun terpaksa kami terima sebab tak ada alasan apapun selain yang diungkapkan sebelumnya bahwa pemakaian judul tersebut sebab menurut kami cukup mewakili keseharian kami.
Baru-baru ini kami membaca sebuah novel karya Mir Bahadur Ali yang ternya juga seorang pengacara di Bombay-India, dengan judul : Percakapan dengan Al-Mu’tasim, Permainan dengan cermin bergerak, oleh penerbit Victor Gollacz di London-Inggris 1934.
Novel tersebut bercerita tentang seorang mahasiswa hukum yang kurang percaya ajaran orang tua dan leluhurnya, Islam, bahkan menghujatnya. Dia mendapati dirinya terjebak dalam kerusuhan antara Kaum Hindu dan Muslim di India, Allah Yang Ahad melawan Kerajaan Para Dewa. Dan pada malam kesepuluh Ramadhan, dengan tangan putus asa dia membunuh seorang Hindu-pikirnya. Merasa dibayang-bayangi oleh perbuatannya membunuh seorang penyembah Dewa, namun tak tahu pasti apakah seorang Muslim lebih benar dari seorang Hindu? Dia memutuskan untuk berkelana mencari seseorang yang bisa menenangkan kegalauan hatinya, Al-Mu’tasim. dasar pemikirannya adalah pencarian tiada akhir dari sebuah jiwa melalui beragam pantulan halus yang ditinggalkan jiwa itu pada yang lain. Novel tersebut mirip sebuah alegori, di mana Al-Mu’tasim adalah simbol Tuhan, liku-liku perjalanan sang tokoh utama dalam arti tertentu mirip proses ruhani manusia dalam pendakian mistisnya.
Di akhir novel Bahadur ini, Mr. Cecil Robert, sastrawan Ingris awal abad XX berkomentar bahwa novel ini sangat terpengaruh oleh kisah Mantiq ut-Tair.
Dan berkat bantuan dari Abang, seorang teman yang bergelut dalam bisnis gelap literatur tua, kami pun menikmati karya seorang Mistikus Persia Fariduddin Attar yaitu Mantiq ut-Tair (musyawarah burung) yang bercerita tentang burung-burung yang bermusyawarah sebab tersiarnya kabar akan jatuhnya sehelai bulu dari sayap Simurg, Raja Para Burung. Mereka memutuskan untuk mencari bulu tersebut untuk mencegah timbulnya anarki. mereka mnempuh perjalanan yang nyaris tak terhingga melintasi tujuh samudera, menembus pusaran, melintasi Kaf (Lingkar pegunungan yang mengelilingi bumi) dan terakhir pelenyapan. Kebanyakan burung-burung tersebut meneyerah di tengah jalan dan sebagiannya lagi hilang hingga tersisa tigapuluh ekor saja. Di akhir perjalanan, di Pegunungan Simurg, mereka merenungi semua yang mereka lewati dan megerti bahwa merekalah Simurg, bahwa Simurg berarti ‘tigapuluh ekor burung’, bahwa simurg adalah masing-masing dari mereka dan juga mereka semua. Kisah ini menurut kami mirip dengan perluasan prinsip identitas. Segala sesuatu yang ada di suatu tempat ada di mana-mana dan apa saja adalah segalanya. Matahari adalah sebuah bintang, dan setiap bintang adalah semua bintang dan matahari.
Kedua Kisah di atas sangat mirip dengan sajak pembuka tulisan ini (kembali baca di atas). Ketiganya identik dengan prinsip identitas dan pencarian sebagai perjalanan ruh. Sajak tersebut sebenarnya tak ada kaitannya dengan judul Kisah 2002 Malam, kecuali bahwa seorang idiot menempatkannya berdampingan sebagai judul blog-nya 2002. Kedua ide tersebut ditemukan dalam waktu, tempat, dan kondisi yang berbeda.
Yang menarik adalah Mantiq ut-Tair yang juga dikenal dengan judul The Persian Mystics : Attar adalah salah satu dongeng yang diceritakan oleh Puteri Syahrazad untuk menghibur suaminya, Baginda Syahriar, agar belia melupakan niatnya untuk kawin lagi setiap hari dan menggantung mati istrinya keesokan paginya. Kisah Puteri Syahrazad dan Baginda Syahriar adalah sebuah maha karya hasil dari pertemuan sastrawan-sastrawan sufi di baghdad ratusan tahun silam dan terkenal dengan judul Kisah 1001 Malam.
…………………………………………………………………………………………………………

Sampai di sini, kami hanya ingin menyampaikan bahwa ide Kisah 2002 Malam dan sajak di atas telah kami temukan dan publikasikan jauh sebelum kami melakukan kajian literatur ini. Seseorang di suatu tempat dan di suatu waktu bisa saja pernah berfikir sama denganmu.
namun demikian kami tak punya pembelaan apapun jika seseorang tetap menuding kami sebagai pemabajak ulung (baca : penyontek parah).

Older Posts »