Tulisan ini kumulai dengan hati yang berdebar pelan sambil
menatap cermin, tak ada gurat keriput di
sana
masih kencang walaupun ada beberapa kawah hasil letusan jerawat sisa-sisa
metabolisme yang tidak terkelola dengan baik didorong oleh enzim dan naluri untuk
mempertahankan keturunan yang tidak tersalurkan.
Tapi…buph…jantungku melambat karena saya dapati sepucuk
surat
di sela-sela
mahkotaku yang legam, tebal, dan ikal. Putih keperakan sangat kontras dengan
helai-helai yang lain. Akhirnya teguran itu datang juga pikirku, padahal usiaku
baru 23 tahun lebih beberapa bulan. Apa si kurir kali ini salah kirim paling
tidak seharusnya aku baru mendapatkannya 10-20 tahun lagi. Ah…, tidak mungkin
Dia mengutus kurir yang alpha. Ya, pesan ini mutlak untukku.
Akupun mencabut jarum perak di ubun-ubunku itu dan
membawanya kejendela memperhatikan kilaunya diterpa sinar siang yang terik.
Kuhela nafas panjang mengundang si cerdik akal, si hati yang bijak, dan si jiwa
dengan nafas ruh-Nya. Kami berembuk mencoba membaca sasmita yang tersemat dari
tiap berkas cahaya kemilau dari jarum perak tersebut.
Berkas cahaya itu silang menyilang dan saling memilin
membentuk garis-garis aksara dan akhirnya menjadi kalimat.
Apa yang telah kamu
lakukan selama ini buat Tuhanmu, agamamu, bangsamu, keluargamu, karib handai taulanmu, dan dirimu sendiri?
Jantungku berhenti berdegup sebab tak bisa menjawap apa-apa.
Si akal yang sok tahu lari tunggang langgang bersembunyi dalam lipatan-lipatan
labirin perpustakaannya tanpa menoleh lagi kepadaku, dan si hati hanya bisa menangis
karena tidak mampu menampung pertanyaan-pertanyaan itu, kehebatannya memendam
rasa, rahasia, bahkan gejolak samudera emosi, seketika tak berguna. Untung si jiwa
cepat tanggap dan meniupkan nafasnya di dadaku sehingga jantungku kembali
berdegup walau masih lambat.
Terbayang malam-malam yang kulewatkan begitu saja tanpa
menjenguk-Mu walau sesujud, tanpa belajar keras demi memenuhi kewajiban sebagai
penerus bangsa yang semakin terpuruk saja. Terngiang suara Ibunda tersayang
“Nak, belajar yang rajin dan jangan lupa sholat, kehormatan dan kebanggaan kami
ada di tanganmu!” dan saya cuma bisa menjawab singakat “Iye…!” sambil
menggenggam uang yang berhasil saya jarah dari tetes-tetes keringatnya. Juga
suara adik-adik dikampus “Kak, bagaimana kalo begini, bagaimana kalo begitu?”
dan tanpa rasa tanggung jawab, tanpa kearifan dan entah dengan kharisma apa aku
menjawab “Masamumi itu De’, kita sudah tuami kodong!”. Ah..ternyata aku sudah
akui kalau aku sudah tua padahal
pada detik-detik sebelumnya aku menolak
mendapat ultimatun itu.
Tulang belulangku lemas tanpa daya membiarkan tubuhku
lunglai terduduk sambil bersandar di didinding membelakangi matahari. Jarum
perak itu telah hilang entah ke mana, terlepas dari jepitan jariku meleyang
tertiup angin keluar jendela. Aku masih tertunduk menatap bayang-bayangku hasil
proyeksi berkas sinar matahari yang menerobos lewat jendela di belakangku.
Bayangan yang sama yang sejak 23 tahun lalu menemaniku,
setia mendampingi di setiap langkahku kecuali kalau aku menginginkan
kesendirian di dalam gelap. Mungkin dia sudah bosan menyaksikan segala
kemunafikan dan kemalasanku. Jengah mendengar semua dusta dan keluh kesahku.
“Maaf kalau aku tidak membuatmu begitu bangga, sekarang kamu
boleh pergi!” aku mengacuhkannya sambil menutup jendela dan membenamkan diriku
dalam pelukan kekasih yang selalu mengertiku, si kelam kegelapan.
Demi Masa….
Aku benar-benar telah rugi…..